welcome

Selamat datang di catatan si Penuntut Ilmu, hidup akan terasa indah jika kita mampu berbagi walaupun itu kecil..kritik dan saran silahkan di kolom komentar!!

Senin, 22 Oktober 2012

Paradigma Baru PKn SD

Tentu Anda sering mendengar dan mungkin Anda juga sering menggunakan istilah paradigma dalam pembicaraan. Paradigma dalam kaitannya dengan PKn berarti suatu model atau kerangka berpikir yang digunakan dalam proses pendidikan kewarganegaraan di Indonesia.

Pertanyaannya mengapa diperlukan paradigma baru PKn?

Warga negara yang demokratis
Demokrasi tumbuh sejak jaman Yunani Kuno, yakni ketika munculnya istilah Negara Kota atau Athena pada abad ke-6 sampai abad ke-3 Sebelum Masehi.Secara etimologis, demokrasi berasal dari kata Yunani demos berarti rakyat dan kratos atau kratein berarti kekuasaan atau berkuasa.Demokrasi dapat diterjemahkan "rakyat berkuasa". Dengan kata lain, demokrasi berarti pemerintah yang dijalankan oleh rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui perwakilan) setelah adanya proses pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Menurut Alamudi (1991) mengemukakan soko guru demokrasi, yaitu :
1) kedaulatan rakyat,
2)pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah,
3) kekuasaan mayoritas,
4) hak-hak minoritas,
5) jaminan HAM,
6) Pemilihan yang bebas dan jujur,
7) persamaan di depan hukum,
8) proses hukum yang wajar,
9) pembatasan pemerintahan secara konstitusional,
10)pluralisme sosial, ekonomi, dan politik,
11) nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama dan mufakat.

Komponen-komponen dasar sistem tata kehidupan bernegara terdiri dari sistem personal, sistem kelembagaan, sistem normatif, sistem kewilayahan dan sistem ideologis.

Pembelajaran PKn untuk warga negara demokratis
Agar warga negara dapat berpartisipasi secara efektif, diperlukan bekal pengetahuan dan keterampilan, pengalaman praktis, dan pemahaman tentang pentingnya partisipasi warga negara. PKn dengan paradigma baru bertumpu pada kemampuan dasar kewarganegraan untuk semua jenjang SD/MI, SLTP/MTs, dan SM/MA. Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa model pembelajaran PKn dengan paradigma baru hendaklah dapat mengakomodasi untuk pencapainan tujuan PKn itu sendiri. Selanjutnya akan diajak untuk mengenal model pembelajaran tersebut, ialah model pembelajaran yang berbasis portofolio.
Portofolio adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan.
Dalam pembelajaran PKn berbasis portofolio, kelas dibagi kedalam 4 kelompok.Setiap kelompok bertanggung jawab untuk membuat satu bagian portofolio. Adapu tugas mereka dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Kelompok portofolio satu bertugas menjelaskan masalah.
2. kelompok portofolio dua bertugas menilai kebijakan  alternatif yang diusulkan untuk memecahkan masalah.
3. kelompok portofolio tiga bertugas membuat satu
kebijakan publik yang akan didukung oleh kelas
4. kelompok portofolio empat, bertugas membuat suatu rencana tindakan agar pemerintah mau menerima
kebijakan kelas

Sejalan dengan dinamika perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ditandai oleh semakin terbuka dan ketatnya persaingan antar bangsa maka Indonesia pada dekade ini memasuki era reformasi di berbagai bidang menuju kehidupan masyarakat yang lebih demokratis.
Dalam masa transisi atau proses perjalanan bangsa menuju masyarakat madani (civil society), pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu mata pelajaran di tingkat sekolah perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang berubah. Proses pembangunan karakter bangsa (national character building) yang sejak proklamasi menjadi prioritas kini perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi negara Republik Indonesia.
Pada hakikatnya pembangunan karakter bangsa ini mengarah pada penciptaan suatu masyarakat Indonesia yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai titik senral. Dalam proses itulah pembangunan karakter bangsa kembali dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak dan memerlukan pola atau paradigma baru.
Tugas PKn dengan paradigma baru ini mengembangkan pendidikan demokrasi mengemban tiga fungsi pokok, pertama mengembangkan kecerdasan warga negara (civic intelligence), kedua membina tanggung jawab warga negara (civic responsibility), dan ketiga mendorong partisipasi warga negara (civic participation).
Kecerdasan warga negara yang dikembangkan dalam multidimensional yaitu dimensi rasional, spiritual, emosional dan sosial. Untuk mengembangkan masyarakat yang demokratis melalui PKn diperlukan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran khusus yang sesuai dengan paradigma baru PKn. Model pembelajaran yang sesuai adalah model pembelajaran berbasis portofolio atau dikenal dengan Proyek belajar Kewarganegaraan Kami Bangsa Indonesia (PKKBI).
Model Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio ini meliputi: Identifikasi masalah, memilih satu masalah untuk kajian kelas, mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji kelas, membuat portofolio kelas, menyajikan portofolio dan refleksi terhadap pengalaman belajar.
Dalam mengembangkan warga negara yang demokratis untuk membangun civic intelligence, civic responsibility dan civic participation dapat digambarkan sebagai berikut.

1.Knowledge
2.Belief
3.Skill
4.Self confidence
5.Commitmence
6.Competence
7.Civic intelligence
8.Civic responsibility
9.Civic participation

Tiga lingkaran yang tumpang tindih berikut adalah: lingkaran (1) knowledge/pengetahuan, lingkaran (2) Belief/sikap, dan lingkaran (3) skill/keterampilan. Perpaduan antara knowledge dengan belief, menghasilkan self confidence (4), antara belief dengan skill, menghasilkan commitmence (5), dan antara skill dengan knowledge menghasilkan competence (6). Sehingga terbentuklah civic intelligence (7), civic responsibility (8) dan civic participation (9).

Model Pembelajaran PKn Berbasis Portofolio khusus untuk SD setelah melalui proses identifikasi masalah, memilih satu masalah untuk kajian kelas, mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji kelas, membuat portofolio kelas. Dalam menyajikan portofolio atau dikenal dengan show case sebelum refleksi terhadap pengalaman belajar. Siswa dapat membuat kotak tayangan pada kegiatan Show case sebagai berikut.

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar